Tulisan ini saya awali dengan mengutip
pernyataan Kabag Humas Pemda Kota Bengkulu bapak Salahuddin Yahya di
Harian Rakyat Bengkulu edisi 23 Februari 2014 terkait program sholat
zhuhur hari rabu berjama'ah berhadiah mobil lebih spesifik tentang
hadiah atau bahasa pak salahuddin zakat dari penyumbang "hadiah itu
datang murni dari orang yang ikhlas berzakat, bukan semata untuk
kepentingan apapun....."
baiklah saya akan membahasnya dari berbagai sisi pertama tentang ikhlas, Ikhlas adalah bahasa nurani, "bahasa langit" dan lebih pas bahasa Tuhan, manusia tidak bisa mengklasifikasikan dia ikhlas atau tidak ikhlas maksud saya pada posisi sebagai manusia, bpk Salahuddin Yahya tidak bisa menjustifikasi bahwa orang dalam hal ini misal pengusaha menyumbang mobil untuk program sholat berjama'ah berhadiah adalah ikhlas kendatipun dia (orang yang menyumbang_red) mengatakan saya ikhlas menymbang mobil, tapi kita kan sebagai manusia tidak tahu apa isi hatinya tatkala mengatakan itu?.
kemudian berikutnya hadiah itu kata bpk Salahuddin adalah zakat, nah masalah zakat sudah ditentukan dalam Alqur'an bahwa ada 8 asnaf yang berhak menerima zakat : “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 60) kalau dirinci seperti dibawah ini :
1. Orang Fakir
2. Orang Miskin
3. Pengurus Zakat/Amil
4. Mu’alaf
5. Memerdekakan Budak
6. Orang yang berhutang
7. Pada jalan Allah (Sabilillah)
8. Orang yang dalam perjalanan
menjadi pertanyaan saya adalah kalau memang mobil yang disumbang untuk sholat berjama'ah berhadiah mobil hari rabu di Masjid Attaqwa Anggut adalah zakat (menurut Bpk Salahuddin_red) dari 8 asnaf yang diatas masuknya ke nomor berapa? pertanyaan berikutnya apakah layak misal nanti ada orang yang berhasil finis 52 kali setiap rabu sholat berjama'ah tidak ketinggalan takhbiratul ula (takhbir pertama) sebagaimana persyaratan lomba kemudian dia dapat mobil 1 unit misal dapat mobil Innova yang harganya ratusan juta, apakah layak kalau memang itu mobil zakat diberikan kepada satu orang yang nilai nya ratusan juta, menurut analisaku, ini konsep pembagian zakat yang tidak memperhatikan pemerataan, coba kalau kita kalkulasi misal harga innova itu 300 juta hanya diberi kepada satu orang sangat fantastis, bandingkan kalau harga innova 300 juta kemudian diuangkan 300 juta itu di berikan diberikan kepada fakir/miskin 300 orang dikota Bengkulu ini, yang memang masih banyak warg kota hidup dibawah garis kemiskinan di kota ini, maka masing-masing fakir/miskin akan mendapat 1 juta dan nilai atau jumlah itu bagi mereka sangat berarti bisa untuk beli beras, sayur-sayuran dan lain-lain.
Belum lagi dari analisa ku berdasarkan pengamatan poto-poto, berita di media dan informan lain bahwa yang hadir sholat berjama'ah berhadiah mobil pada hari Rabu banyak dari kalangan PNS, yang diduga takut dengan atasan khwatir dimutasi, ga enak dengan atasan, dan lain-lain, nah bagaimana kalau nanti yang yang dapat hadiah mobil mereka (PNS_red) padahal dari sisi ekonomi mereka cukup mampu? apakah mobil hadiah yang kata pak Salahuddin adalah zakat layak diberikan padahal si PNS termasuk golongan mampu?
Sesungguhnya saya tidak mau masuk terlalu jauh soal perdebatan apakah boleh atau tidaknya sholat berjama'ah setiap hari rabu zhuhur berhadiah mobil untuk masalah ini biarlah ulama yang menjelaskan tapi saya hanya melihat dari sisi penyumbang hadiah mobil dan lain-lain sebagaimana yang telah saya tulis dahulu :
1. 1 unit mobil Toyota Agya dari Ridwan Mukti (Bupati Musi Rawas)
2. 1 unit Toyota Avanza dari pengusaha perumahan REI Daniel
3. 2 Suzuki Ertiga dari Hamba Allah
4. 1 unit mobil (tdk menyebutkan jenis mobil) dari hamba Allah
5. 1 unit Toyota Innova dari Walikota Bkl
6. 1 unit Motor dari Tomi
7. 1 unit motor dari Meri
8. 1 unit motor dari H Marno
9. 1 unit motor dari Daniel REI
10. 1 unit motor dari Bujang HR (Sekwan Kota Bengkulu)
11. 1 unit motor dari Darmawansyah (Kadis PU Kota Bengkulu)
12. 1unit motor dari Syaferi Syarief (Kepala DPPKAKota Bengkulu)
13. Hadiah berangkat haji 2 orang tiket dari Hamba Allah
(sumber koran Rakyat Bengkulu 16 Februari 2014)
Hanya menduga ada kepentingan lain dibalik sumbangan dari pengusaha dan lain-lain? Tapi okelah saya coba menulis analisa saya terkait program ini misal nanti yang finish atau clossing ada 150 orang jama'ah yang bisa mencapai 52 kali sholat jama'ah setiap hari rabu tidak ketinggalan takhbiratul ula (takbir pertama) di masjid Attaqwa, sementara misal mobil hadiah (zakat versi bpk Salahuddin_red) tersedia hanya 6 unit mobil, yang saya ketahui akan diundi kalau ini yang terjadi (maaf jika salah), nah setelah diundi munculah 6 nama pemenang yang dapat mobil, lalu bagaimana dengan 144 orang yang berhasil 52 kali sholat berjama'ah setiap hari rabu zhuhur di masjid Attaqwa apakah mereka hanya akan "tesangai" pulang tanpa mendapat hadiah atau ada hadiah lain? tapi menurutku ini akan mengganggu fikiran 144 orang tadi karena udah ikut program hampir setahun eh ternyata pas diundi nama tidak muncul, kemudian urung dapat mobil? akan timbul masalah baru.
Akhirnya saya hanya menyarankan kepada walikota Bengkulu bapak Helmi Hasan, SE sebagai top leader di kota Bengkulu agar mengembalikan sumbangan hadiah (zakat versi bpk salahuddin_red) mobil kepada penyumbang atau melaporkan sumbangan kepada KPK (Komisi pemberantasan Korupsi) karena dikhawatirkan bermasalah dikemudian hari, mengqiyaskan dengan istilah yang sangat terkenal “lebih baik mencegah dari pada mengobati” ...
-Melyan Sori-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar