Kedatangan mahasiswa dan perwakilan PRB tersebut sekitar pukul 11.30 WIB, namun sayangnya tidak berhasil menemui Kepala Kejaksaan Negeri Seluma, Murni Amin SH. Mereka diterima langsung oleh Kasi Pidana khusus Toni Indra SH .
Ketua PRB Provinsi Bengkulu, Husni Thamrin SH MH mengatakan, kedatangan pihaknya dengan menghadiahkan ayam betina bertelur tersebut melambangkan kinerja Kejati Seluma yang dinilai lamban dalam menyelesaikan banyaknya kasus yang terjadi di Bumi Serasan Seijoan. Pihaknya berharap agar Kejati mengusut tuntas berbagai proyek fiktif dan berbagai kasus korupsi lainnya. Dalam kedatangan awalnya dengan diiringi belasan rombongan itu, pihaknya mendesak agar Kejati menyelesaiakan beberapa proyek fiktif berskala besar. Yakni proyek fiktif pabrik semen yang menelan anggaran Rp 3,7 miliar, kasus fiktif pengadaan kontruksi pemeliharaan jalan pasca bencana alam tahun 2010 oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah di desa Renah Gajah Mati- Gunung Megang Semidang Alas Maras,dan proyek fiktif rehabilitasi jalan desa Renah Panjang- Napal Jungur Kecamatan Lubuk Sandi yang menelan anggaran senilai Rp 1.400.026.000, proyek BPBD 2011.
“Kami mendesak agar Kejari bergerak cepat menyelesaikan berbagai proyek fiktif. Jika lambannya kinerja Kejari kareana terkendala data dan dana kami siap membantu,” ujar Husni Thamrin kepada RBI Senin (9/7).
Dikatakannya, banyak pekerjaan rumah Kejari untuk mengusut tuntas setingan berbagai kasus korupsi di Seluma, mahasiswa yang tergabung dalam Puskaki dan FRB memberikan waktu terhadap berbagai kasus besar tersebut dapat diusut hingga bulan Idul Fitri mendatang. “Kami menargetkan hingga Idul Fitri. Setelah Idul Fitri pihak Kejati belum mengusut masalah tersebut, mahasiswa dan FRB akan kembali mendatangi Kejati dengan aksi demo yang berskala besar,” kata Husni Thamrin.
Hal senada diungkapkan Soni Taurus, perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam puskaki. Dalam waktu dekat ini, pihaknya lebih mengonsentrasikan diri terhadap 2 kasus besar. Yakni proyek fiktif Bencana alam di desa Napal Jungur dan Rena Gajah Mati yang keduanya menelan anggaran hampir Rp 3,5 miliar. Setelah itu,pihaknya juga akan menggeber berbagai kasus fiktif lainnya yang melibatkan sejumlah pejabat di lingkungan Pemda Seluma. “Kejari terkesan lamban. Karena instansi vertikal tersebut telah dihadiahi mobil Nissan Terano oleh Pemda Seluma. Seharusnya instansi vertikal tidak boleh menerima hal semacam itu,” kata Soni Taurus.
Terhadap dua proyek fiktif tersebut, proses pelelangan tender tidak melalui mekanisme yang ada. Bahkan panitia tidak menyampaikan lelang. Hal itu diperkuat dengan temuan perusahaanpelaksana yang tercantum atas nama PT TKS yang disebut sebagai pelaksana proyek rehabilitasi jalan di desa Rena Gajah Mati dan PT , mengaku pihaknya tidak mengerjakan proyek tersebut.Adapun berbagai pejabat yang terindikasi terlibat dalam 2 proyek fiktif pasca bencana alam . “Dua proyeki besar tersebut menelan kerugian sekitar 3,5 miliar,” ujar Soni.
Terpisah, Kasi Adpidsus Kejari Seluma Toni Indra ,SH MH mengatakan, pihaknya menyambut baik dukungan dan apresiasif yang dilakukan mahasiswa dan perwakilan FRB. Namun pihaknya belum dapat memastikan realisasi mengusut tuntas hal itu dengan memakan waktu yang cepat. Pasalnya pihaknya membutuhkan waktu untuk proses penyidikan. Terkait data, Toni mengakui, pihak Kejati telah mengantongi berkas data berbagai kasus yang dimaksud.” Kami siap untuk mengadakan pulbaket dan butuh waktu untuk bekerja mengusut perkara tersebut dalam penyidikan. Selama ini kami terkendala dengan mutasi di lingkungan Kejati. Dalam waktu dekat kasus tersebut akan kita proses,” tandas Toni Indra. (One)
Incoming search terms:
- kejari seluma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar